Google Reader MP3 Player

Senin, 30 Agustus 2010

Kamu,Orang Indonesia?? apa sih Oi itu??


Oi adalah organisasi yang mempersatukan para penggemar Iwan Fals dan simpatisannya.Kata Oi untuk pertama kalinya dicetuskan oleh Iwan Fals. Di samping digunakan sebagai nama organisasi, kata “Oi” juga dimaksudkan sebagai seruan untuk bersatu.Oi didirikan oleh Iwan Fals dan penggemar Iwan Fals dalam Silaturahami Nasional di Desa Leuwinanggung, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok yang diprakarsai oleh Yayasan Orang Indonesia (YOI) pada tanggal 16 Agustus 1999 untuk waktu yang tidak terbatas dan untuk selanjutnya tanggal tersebut dijadikan sebagai hari Oi.



  • Syarat Mendirikan Oi:
    Minimal terdiri dari 10 orang lengkap dengan kepengurusannya (Ketua, Wakil, Sekretaris, Bendahara, Humas & Ketua Bidang Departemen)
    Minimal mempunyai satu kegiatan yang aktif (Seni, Budaya, Olaraga, Pendidikan, Pustaka, Niaga dan Rohani)
    Mendaftarkan diri ke Pengurus Kota Oi (BPK Oi) di kotanya masing-masing
    Menyerahkan alamat lengkap/sekretariat & data-data kelengkapan lainnya kepada BPK Oi.
    Membuat Kartu Tanda Anggota (KTA) melalui BPK Oi.
    Jika belum ada BPK Oi maka harus diadakan konsolidasi antar Oi kelompok guna membentuk BPK Oi kemudian didaftarkan ke Badan Pengurus Pusat Oi dan akan disahkan melalui Surat Keputusan.



  • Syarat Menjadi Anggota Oi
    Sanggup menjaga nama baik Oi.
    Mengisi Formulir pendaftaran
    Menyerahkan pas foto (4 lembar)
    Membayar uang pendaftaran
    Bersedia aktif dalam organisasi dan menjaga nama baik serta kode etik organisasi.

Makna Lambang "OI"


Lambang (logo) organisasi Oi berupa gambar siluet berbentuk menyerupai huruf " i " (kecil) tegak melebar berwarna hitam dengan titik berwarna merah darah di atasnya menyatu dengan huruf " O " berwarna putih dalam posisi miring ke kanan.
Makna lambang Oi:
Bentuk huruf " O " berwarna putih miring ke kanan menyatu dengan bentuk menyerupai huruf " i " (kecil) tegak berwarna hitam melambangkan kesucian yang dilandasi keteguhan dan ketegasan sikap.
"Titik" bulat di atas huruf " i " (kecil) berwarna merah darah melambangkan semangat yang membara untuk bersatu.

Galang Rambu Anarki "Anakku"


Nama Galang Rambu Anarki (alm) adalah nama putra pertama Iwan Fals yang dijadikan judul lagu dalam album Opini (1982).

Lagu ini berkisah harapan seorang Iwan Fals pada kelahiran anak pertamanya (1 Januari 1982) ditengah kerasnya kondisi hidup saat itu saat BBM naik dan menjelang Pemilu.

Galang meninggal dunia 25 April 1997 di rumah Iwan Fals saat masih di Bintaro dan dimakamkan di Leuwinanggung (sekarang adalah kediaman tetap Iwan Fals).

Kematian Galang membuat Iwan Fals berubah total.

Iwan yang dulunya kita kenal sebagai musisi garang dan terkesan liar baik penampilan maupun lirik-liriknya, kini nampak lebih lembut, dewasa dan bersahaja.

Peristiwa ini benar-benar merubah kehidupan seorang Iwan Fals dan secara tidak langsung juga mempengaruhi penggemarnya.

Lagu "BONGKAR" Di bajak orang india

Lagi-lagi lagu karya musisi Indonesia dibajak musisi dan penyanyi India. Kali ini lagu “Bongkar” Iwan Fals yang berkolaborasi dengan kelompok Swami.



Lagu itu diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh musisi India dengan bahasa mereka. Dan judul lagu itu berubah menjadi ‘Oya Oya’ yang merupakan soundtrack film India “Horn Ok Pleassss”.



Seperti ditulis www.iwanfalsmania.blogspot.com, penggunaan aransemen lagu “Bongkar” oleh musisi India tanpa persetujuan dari pengarang lagu ini yaitu Iwan Fals dan kelompok Swami. Juga tidak ada izin dari label yang memayungi album Iwan dan Swami, yaitu Airo Records.



Ini berarti, lagu “Bongkar” telah dijiplak musisi India. Intro dan reffrain lagu versi India ini benar-benar mirip dengan versi Iwan Fals. Perbedaan hanya terdapat pada bagian kecil dan tentu saja bahasa yang digunakan.



“Kita jadi kembali ingat tentang kasus lagu ‘Tak Bisakah’ milik band Peterpan yang menjelma menjadi ‘Kya Mujhe Pyar Hai’. Lagu Peterpan itu dijiplak habis oleh musisi India dan menjadi lagu yang populer serta menduduki puncak tangga lagu cukup lama di India. Namun menurut kabar berita, pihak Musica Studio (label album Peterpan) telah menyelesaikan kasus penjiplakan ini dengan kekeluargaan,” tulis http://www.iwanfalsmania.blogspot.com/.



Menariknya lagi, orang yang menyanyikan “Oya Oya” dan “Kya Mujhe Pyar Hai” adalah penyanyi yang sama. Dia adalah penyanyi India bernama Kay Kay.



Dikhawatirkan, musisi India sedang melakukan ‘balas dendam’ sebab lagu-lagu mereka juga sering menjadi objek plagiarisme oleh musisi Indonesia terutama lagu-lagu dangdut. Bagi Anda yang ingin melihat sejauhmana penjiplakan itu persianya bisa dilihat dan didengarkan pada YouTube atau klik dari www.iwanfalsmania.blogspot.com

Sabtu, 28 Agustus 2010

REINKARNASI JIWA


Rumah Alam Iwan”Lestarikan alam hanya celoteh belaka....” Itu kritik Iwan Fals lewat lagu ”Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”. Bagi Iwan, merawat alam bukan hanya celoteh, tetapi tindakan. Bukan kebetulan kalau spirit itu tergambar di rumahnya.
Myrna Ratna dan Frans Sartono
Hujan baru saja berhenti di Desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Sore sudah menjelang. Bau tanah yang baru tersiram hujan menyesap hidung. Suara jangkrik sesekali terdengar di kejauhan.

Dengan bersandal jepit Iwan mengajak kami berkeliling halaman rumahnya yang asri. Halaman yang diidamkan akan menjadi hutan kecil dalam beberapa tahun mendatang. Materinya sudah tersedia: lahan yang sangat luas, pohon-pohon rindang yang sudah berbuah, bentangan gunung yang menjadi ”background”, dan pemilik rumah yang cinta tanaman.

”Nih mangga gedong gincu. Aku pernah baca katanya sih buah ini makanan favorit di Gedung Putih. Enggak tau deh bener atau enggak,” kata Iwan sambil terkekeh.

Di sekeliling pohon mangga yang rimbun itu ada juga pohon manggis, rambutan, duku, kecapi, pepaya, pisang, dan masih banyak lagi. Rimbunan pohon ini ”dibelah” oleh jalan setapak, yang katanya sering dijadikan jogging track oleh Iwan.

Dari semua pohon buah yang ada, Iwan mengaku paling suka menyantap pepaya. ”Biar berkicaunya tambah mantap ha-ha-ha,” kata Iwan berseloroh.

Selain pohon-pohon buah, sebagian tanah juga ditanami sayur-sayuran, seperti bayam, cabai, mentimun, selada. Paling tidak, kebutuhan sayuran sehari-hari keluarga ini sebagian terpenuhi dari halaman rumah.

Di salah satu sudut yang agak terbuka, kami sejenak menghentikan langkah ketika melewati tiga buah makam. ”Ini makam anak saya, Galang. Yang itu makam adik, satunya lagi makam yang punya tanah dulu,” katanya.

Tak jauh di seberang makam, terletak beranda yang dilengkapi seperangkat kursi dan meja. Di situ pula kami berbincang dengan Iwan yang memiliki nama lengkap Virgiawan Listanto itu. ”Itu tempat favorit saya. Saya paling suka duduk di situ,” katanya.

Iwan kemudian mengenalkan kami pada Mang Jaja, yang disebutnya sebagai ”menteri pertanian”. Selain memilih bibit, menanam dan merawat kebun, Mang Jaja juga bertanggung jawab mengolah sampah untuk dijadikan pupuk. ”Ini tungku untuk pembakaran sampah. Sampah kami pilah-pilah, ada juga yang dijadikan pupuk,” kata Iwan sambil menunjuk tempat pengolahan sampah yang berdinding tembok.

Ruang publik

Sebagian besar ruang di kediaman rumah Iwan ditujukan bagi kepentingan publik. Ketika memasuki pintu gerbang rumahnya, misalnya, terdapat bangunan yang digunakan untuk perpustakaan umum, kantor untuk manajemen Tiga Rambu. Di dekatnya tersedia aula besar yang dindingnya dipenuhi cermin. Aula ini biasa digunakan untuk latihan Iwan bersama bandnya. Tetapi bisa juga bisa digunakan untuk latihan tari anak-anak yang tinggal di sekitar kediamannya.

Di sebelah bangunan itu kini dibangun sekolah musik, yang terdiri dari tiga kelas dan satu studio. ”Saya pengin mereka bisa belajar di luar kelas, seperti anak-anak yang belajar biola di Taman Suropati Jakarta,” katanya.

Memasuki rumah utama, yang pertama terlihat adalah ruang makan yang bersebelahan dengan studio musik. Studio ini khusus digunakan Iwan berlatih musik. Ruangan ini dilengkapi seperangkat alat band dan beberapa instrumen musik petik. Ruangan ini juga dilengkapi sejumlah lukisan karyanya.

”Saya masih pengin ngelukis, tetapi enggak ada waktunya. Dulunya dinding ini dipenuhi sama lukisan saya semua, tetapi terus ditutup untuk lapisan kedap suara,” kata Iwan yang sewaktu kuliah di IKJ mempelajari seni musik.

Ia kemudian mengajak kami ke beranda depan yang berada di lantai dua. Beranda itu menghadap ke lapangan rumput yang luas, dan di kejauhan, di balik lapisan awan, menyembul puncak gunung. Sementara di pinggir lapangan hijau berderet sejumlah pohon langka, seperti sukun, jamblang putih, dan matoa.

”Lapangan ini dipakai kalau kita bikin konser atau acara, seperti waktu peluncuran albumku yang terakhir. Kalau pas tujuh belasan lapangan ini bisa dipakai untuk pertandingan badminton, bisa jadi tiga lapangan,” katanya.

Para tamu ataupun musisi yang terlibat dalam acara-acara yang diselenggarakan di kediaman Iwan biasanya menginap di situ. ”Ada beberapa kamar tamu dan kamar mandinya sekalian,” lanjutnya.

Ladang jagung dan hari tua

Menyeberangi halaman yang luas, terhampar ladang jagung dan sebuah saung untuk bersantai. Apa mimpinya setelah mencapai usia 50 tahun? ”Aku menjalani saja, dari detik ke detik, dari waktu ke waktu, gimana caranya bermakna.”

Dengan semua kesuksesan, popularitas, dan dukungan yang diperoleh Iwan, sebetulnya tak salah kalau dia merasa sudah ”cukup”. Tetapi, kata pensiun tak ada di dalam kamusnya.

Pensiun mau ngapain? Di musik enggak ada pensiun, beda sama olahraga. Di musik semakin tua semakin bagus, karena ini urusan perasaan. Lihat saja Mick Jagger, Titik Puspa, pemusik tradisi yang makin tua makin utuh, touch-nya makin oke. Saat ini Yos (istrinya sekaligus manajernya) sedang merancang perjalanan untuk aku,” kata ayah dari Galang Rambu Anarki (1982-1997), Anissa Cikal Rambu Basae (25), dan Rayya Rambu Robbani (7) itu.

Yang mungkin membuatnya merasa ”berumur” adalah ketika melihat anak-anaknya bertumbuh dengan cepat. ”Anak saya yang tertua (Anissa) sudah 25 tahun, dia sudah punya target. Tetapi ya yang namanya ayah, kalau dia pulang malam masih suka deg-degan. Tetapi mau nanya-nanya malu sendiri, kan bukan anak kecil lagi. Apalagi dia sudah bantu ibunya jadi manajer,” kata Iwan.

Iwan mengakui, kedekatan keluarganya justru dibumbui dengan ”berantem” di antara mereka. ”Paling sering sama anak perempuan saya, misalnya beda pendapat soal artistik panggung, dan lain-lain. Nah, kalau berantem bisa enggak ngomong tuh, bisa tiga hari ha-ha-ha. Ntar baikan lagi. Kadang saya yang ngalah, kadang dia yang ngalah, kadang ibunya yang nengahin, kadang kita bertiga enggak mau ditengahin, terus adiknya yang paling kecil yang nengahin, pokoknya serulah,” kata Iwan dengan terbahak.

Iwan fals terinspirasi oleh Bung Karno

Iwan Fals

Iwan Fals

Setelah membuat lagu tentang Bung Hatta, 20 tahun lalu, Iwan Fals membuat lagu yang terinspirasi oleh Bung Karno. Menurutnya, lagu ini tercipta dari hasil dialog dengan mendiang Bung Karno.

“Judulnya Negeri Kaya. Itu lagu saya paling baru sekali, jadi belum ada di rekaman. Lagu itu hasil akhir dari perjalanan dan perenungan saya ke beberapa kota kemarin,” ungkapnya saat ditemui dalam acara Konser Ngabuburit League di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (18/8/2010).

Pentolan grup Kantata ini mengatakan, salah satu perjalanan spiritualnya adalah berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Di depan makam proklamator Indonesia itu, Iwan mengadu dan berkeluh kesah tentang kondisi bangsa saat ini.

“Saya ziarah ke makam Bung Karno. Di situ saya minta maaf karena saya cengeng dan ganggu istirahat dia. Saya cerita melihat banyak kenyataan yang ada di jalanan. Ini negeri kaya, tapi kok banyak rakyat yang tidak sejahtera. Ya semacam dialog saja saya dengan beliau,” jelasnya.

Sosok Bung Karno di mata Iwan Fals memang begitu penting. Selain tokoh di balik kemerdekaan Indonesia, Bung Karno juga dianggap memiliki kecerdasan luar biasa.

“Kalau enggak ada Bung Karno, tidak akan ada kemerdekaan ini. Kalau saya baca buku-bukunya, dia sangat menggelegar dan cerdas. Pidatonya penuh semangat dan heroik,” puji Iwan.

Pelantun Surat Buat Wakil Rakyat ini pun berharap ajaran Bung Karno menjadi teladan dan inspirasi bagi pemimpin kita sekarang.

“Setiap pemimpin itu memang punya zaman yang beda. Masalah yang dihadapi tiap presiden juga berbeda-beda. Bung Karno tetap harus menjadi inspirasi bagi presiden kita saat ini,” pungkasnya

Iwan fals di mata Acep Zam Zam (Penyair & Budayawan) "Wajar jika karya Iwan bakal abadi"


Kembang Pete, Bongkar, Bento, Ambulance Zig Zag, Proyek 13, bahkan hingga Tince Sukarti, adalah beberapa contoh lagu karya Iwan Fals yang tetap mampu menjawab perkembangan jaman sejak dulu hingga kini. Sepak terjang Virgiawan Listanto tersebut rupanya tak lepas dari pengamatan dan penilaian Acep Zamzam Noor, penyair sekaligus Budayawan Jawa Barat. iwanfals.co.id sempat mewawancarai penyair, Putra KH Ilyas Ruchyat, dari Ponpes Cipasung ini, di sela roadshow ‘KESEIMBANGAN – Oi, Menanam! bersama Iwan Fals & Band’, di kota Tasikmalaya, beberapa waktu silam. Dia mempunyai penilaian sendiri terutama terhadap karya-karya Iwan Fals, karena dia mengaku, juga merupakan pengoleksi album Iwan Fals. Besar Karena Kelugasan dan Aktualitas Sesungguhnya, kekuatan Iwan Fals dalam bermusik ada pada lirik lagunya yang lugas dan langsung. Jika kemudian di sana terkandung pesan kritis, termasuk pesan lingkungan, karena kelugasannya pasti akan sampai kepada masyarakat manapun yang dimaksudnya. Bahkan, di awal-awal album Iwan Fals kesan yang timbul adalah lirik lagu yang frontal. Hal ini karena masyarakat pada saat itu membutuhkan syair-syair bersifat frontal. Mulai berkolaborasi dengan Kantata Takwa, syair lagu Iwan cenderung tetap keras, namun lebih kontemplatif. Puncak kontemplatif Iwan, terdapat di album Suara Hati. Suara Hati, bagi Acep Zamzam Noor merupakan album Iwan Fals yang paling disukainya, karena di album tersebut banyak tersirat puitis, yang merupakan bagian dari kontemplasi ketika seorang Iwan melihat ke “dalam”. Padahal, di album-album sebelumnya, lebih tampak sebagai penilaian Iwan “keluar”. Sementara di album Keseimbangan (yang terbaru -red), meski dia mengaku belum memahami secara khusus, tampaknya Iwan Fals memiliki konsep kontemplasi seperti album Suara Hati. Salah satunya yang terlintas di pikirannya adalah lagu Suhu. Musisi Sekaligus Seniman Melihat seorang Iwan Fals, menurut Acep tampaknya mesti memahaminya sebagai seorang seniman. Dan karyanya yang lahir pun, keluar dari sebuah kejujuran. Tak heran, jika karyanya lahir berhubungan dengan situasi dan kondisi bangsa, karya-karya yang lugas dari seorang Iwan Fals itu, terutama lahir di era orde baru. Jadi, menurut Acep karya Iwan Fals kini memang lebih mendalam, hingga butuh perenungan terlebih dahulu bagi yang mendengarkannya. Kelugasan yang lahir pada karya-karya Iwan Fals, menurutnya tetap lebih soft kini, namun lebih mendalam dari sebelumnya. Demikian pula dengan ditemuinya karya-karya yang sebetulnya religius, dari seorang Iwan Fals, yang menurutnya memang tidak mesti formal karena berhubungan dengan agama, sejak awal di album-albumnya sudah ada. Harapannya terhadap Iwan Fals, dari konteks urgensi hidup berbangsa, Indonesia amat membutuhkan guru-guru bangsa dari berbagai bidang. Setelah lewat era Gus Dur dan Rendra. Dari kalangan musisi, dia berharap pada Iwan Fals, untuk terus melakukan gerakan-gerakan positif yang langsung bersentuhan dengan kehidupan bangsa, termasuk gerakan kampanye lingkungan, gerakan penyadaran sosial dan sebagainya. Karena diyakininya, cara-cara seperti itu akan memberikan inspirasi kepada masyarakat, meski hasilnya tidak akan langsung. Dia mengamati, ada yang terinspirasi dengan tema album ‘Keseimbangan’ Iwan, terutama yang melihat penampilannya. Inspirasi tersebut minimal berguna untuk kehidupan mereka. Ketika sebuah karya menjadi punya manfaat bagi penikmatnya, itu yang utama bagi seorang seniman, ketimbang tujuan-tujuan besar lainnya. Bahkan, dia berpendapat, apa yang dilakukan oleh Iwan Fals termasuk dari karya-karya lagunya, hikmahnya mesti bisa diambil oleh para elit politik, yang memegang kebijakan. “Para elit justru mesti menjadi apresiator pertama bagi karya-karya membangun tersebut,” tambah penerima anugerah South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (2005) ini. Hanya memang, dikeluhkannya sikap politisi sendiri selama ini tampak tidak banyak terinspirasi oleh karya para seniman-seniman besar. Hal ini pun dikeluhkan oleh Acep. “Ya itulah mereka, tampaknya hanya melewatkan saja,” urai peraih Khatulistiwa Literary Award (2007) ini, sembari menyatakan yang ‘menangkapnya’ justru masyarakat. Kendati sudah dimulai, gerakan besar untuk melakukan sebuah “perubahan”. memang akan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Tetapi, karya-karya semacam ini, semisal Iwan Fals, Rendra, selalu dibutuhkan oleh jaman atau bangsa ini. Di matanya, Iwan Fals, bukan sekedar artis seperti penyanyi lain, dia adalah seorang seniman, bahkan legenda. Lebih dari pada itu, Iwan Fals bisa disejajarkan dengan Bob Dylan, yang juga pemusik sekaligus penyair. Karena memang dia (Iwan Fals -red) berkarya atas tuntutan hati, dengan karya yang tak lepas dari pengamatan, rasa, pikiran, dan selalu terkait dengan lingkungan di sekelilingnya, yaitu Indonesia. Iwan Fals dan Rendra? Untuk pernyataan ini, Acep hanya mengatakan keduanya punya tempat berbeda, Iwan Fals sebagai musisi dan seniman, sementara Rendra adalah budayawan. Namun benang merahnya, keduanya terbesar di bidangnya masing-masing. Dia juga percaya, karya-karya yang dibuat oleh Iwan, akan abadi, karena selalu aktual. Apalagi persoalan kebangsaan memang sebetulnya berputar di masalah yang itu-itu saja, karya Iwan Fals akan menjadi “pengingat” di segala situasi, bahkan ketika kemapanan telah hadir di bumi Indonesia. Berani Tawarkan Konsep Aktual Diakuinya, di dunia musik soal tema karya atau album, memang jadi penting. Tema yang populer saat ini memanglah tema cinta. Namun menurutnya di tangan Iwan Fals, karya bertema apapun tetap akan populer. Karena menurutnya, Iwan Fals sudah sangat kokoh, demikian pula secara artistik juga mumpuni. “Mau ‘bermain’ di tema apapun, bagi seorang Iwan sudah dengan sendirinya pesan yang akan disampaikan mengena ke pendengarnya,” tambahnya. Menariknya di album Keseimbangan, adalah sebuah gerakan yang melatari album itu sendiri, dengan mengadakan perjalanan ke berbagai kota dan melakukan penghijauan, tidak sekedar “kampanye” album. Iwan Fals dengan Tiga Rambu dan Oi sudah mencontohkan ada kampanye yang lebih besar, ketimbang sekedar album, yaitu kampanye penyelamatan lingkungan, kampanye penyadaran diri, bahwa bangsa ini ada di posisi krisis, namun tetap memiliki harapan. Pohon hanyalah metafora dari kehidupan. Dengan sendirinya, menanam pohon berarti menumbuhkan lagi kehidupan, ini yang mesti ditangkap. Menurutnya kalangan Oi juga mesti bisa menangkap hal ini dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat luas, untuk jadi inspirasi, hikmah, atau hidayah bagi orang lebih banyak lagi. “Menanam” bagi Acep yang dipersonifikasikannya lewat kegiatan menanam adalah sebuah metafora yang dahsyat. Demikian pula dengan penyelesaian masalah-masalah kebangsaan besar, niscaya bisa diselesaikan lewat entry point kegiatan menanam. Menanam menurutnya menimbulkan kesadaran untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Dari menanam menurutnya, masyarakat bisa belajar untuk mandiri. Diakuinya, lagu di album Keseimbangan, Iwan Fals cukup komunikatif, dan di luar aspek promosi, atau lainnya, Acep percaya, ada lagu Iwan Fals di album ini yang akan menjadi hits. Dia sendiri amat menyukai lagu Iwan Fals terutama lagu Suhu, di album ini. Karena menurutnya, lagu tersebut kaya dengan filosofi kehidupan, yang perlu “keseimbangan” untuk mengarunginya. Oi Jadi ‘Penyambung Lidah’ Yang agak berbeda dengan yang lainnya, dalam kampanyenya Iwan Fals juga tampak didukung oleh Oi. Ini yang membuat agak berbeda. Dia juga berharap agar Oi mengkomunikasikannya ke masyarakat, Yang dilakukan oleh musisi lainya, akan lebih efektif jika didukung oleh media. Namun, apa yang dilakukan oleh Iwan Fals, tetap akan lebih efektif, karena di setiap kampung bisa ditemui anggota Oi. “Dengan catatan, kalangan Oi hingga tingkat terbawah aktif dan ‘gerak’ ikut mengkampanyekan seperti yang dilakukan Bang Iwan,” urai penelur karya Jalan Menuju Rumahmu (kumpulan sajak, 2004) ini. Peran Oi untuk memasyarakatkan pesan pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh Iwan Fals sangatlah penting. Karena bisa juga dianggap bahwa Oi kepanjangan tangan/suara dari Iwan Fals. Karya-karya Iwan Fals juga mengandung ajaran yang jika direnungi oleh siapapun bermanfaat bagi kehidupan, karena yang ditanamkan adalah nilai-nilai, hal ini yang menurutnya mesti ditangkap pendengarnya. Tugas seorang seniman, sebetulnya sudah akan selesai dengan sendirinya, melalui sebuah karya yang sudah diciptakannya. Namun mengingat pentingnya pesan dibalik karya, idealnya memang butuh ‘tangan lain’, yang merupakan “kepanjangan tangan”, untuk implementasi. Tugas ini ada di pundak Oi.